Penghitungan Jumlah Osteoblas dan Osteoklas Caput Femur Dengan Metode Stereologi Non Bias

Metode stereologi non bias digunakan untuk menghitung jumlah sel osteoblas dan osteoklas caput femur pada tikus yang diinduksi D-Galaktosa dan diberikan latihan fisik intensitas ringan dan sedang. Metode ini digunakan untuk mendapatkan jumlah sel yang akurat.

Penelitian-penelitian menggunakan metode stereologi untuk menghitung jumlah sel tulang khususnya sel osteoblas dan osteoklas masih jarang dilakukan. Penghitungan jumlah sel yang tidak menggunakan stereologi menyebabkan data jumlah sel yang didapatkan bias dan tidak tepat. Estimasi jumlah sel pada metode stereologi didapatkan dengan mengubah total sel per unti volume menjadi total sel keseluruhan yaitu dengan mengalikan densitas sel dengan volume total jaringan (Boyce et al., 2010). Jika hal ini tidak dilakukan akan didapatkan hasil keliru atau disebut reference trap .

Artikel lengkap hanya dapat diakses oleh member. Silakan login terlebih dahulu.

Existing Users Log In
   

Metode stereologi: Mengukur Estimasi Volume Hippocampus pada Tikus Sapto Yuliani

Ketika berhadapan dengan mikroskop dan akan melakukan kuantifikasi mikroskopik maka diperlukanlah stereologi. Tidak jarang sebuah penelitian melakukan interpretasi terhadap preparat mikroskopik jaringan hanya dilakukan terhadap beberapa lapang pandang dari satu irisan mikroskopik. Hal ini ternyata dapat memberikan kesimpulan yang sangat bias karena sampling yang kita lakukan tidak representatif. Untuk itu stereologi menawarkan hasil kuantifikasi yang tidak bias karena penghitungan dilakukan berdasarkan teknik sampling yang benar. Konsekuensi ketika melakukan kuantifikasi sel pada jaringan tertentu dengan prosedur stereologi, ada langkah kerja yang kita lakukan bertambah. Untuk menerapkan stereologi ketika menghitung jumlah sel dari suatu jaringan, maka harus dihitung estimasi volume dan kepadatan numerik jaringan yang diamati. Hal-hal yang dilakukan di antaranya adalah: membuat potongan mikroskopik seluruh bagian jaringan dari blok parafin, menentukan potongan yang mana yang akan diambil, membuat preparat mikroskopik dari sampling (konsekuensinya jadi lebih banyak preparat yang dibuat), mengetahui perbesaran akhir yang dilakukan, melakukan pemotretan gambar mikroskopik yang dipilih, mencetak gambar mikroskopik pada kertas berlembar-lembar, melakukan pengamatan dan perhitungan sel berdasarkan 2 cetakan gambar mikroskopik dengan cermat. Dilanjutkan dengan mengelola lembaran kerja dari data yang diperoleh, menganalisa dengan benar, dan dapat melaporkan hasil sesuai aturan dalam pelaporan hasil penelitian stereologi. Diperlukan tambahan tahapan jika dibandingkan dengan kuantifikasi ‘konvensional’. Namun stereologi memberikan hasil lebih tepat, karena suatu jaringan (objek tiga dimensi) sel-selnya dapat dihitung dengan pendekatan persamaan matematis dan statistika sehingga informasi yang didapatkan akan mendekati informasi yang sebenarnya. Oleh karena itu hasil penelitian menggunakan stereologi menawarkan publikasi di jurnal internasional yang lebih menjanjikan.

Artikel lengkap hanya dapat diakses oleh member. Silakan login terlebih dahulu.

Existing Users Log In
   

Metode Stereologi: Estimasi Jumlah Sel Purkinje Cerebellum dengan Fractionator Fisik

Perhitungan estimasi jumlah sel Purkinje cerebellum dengan stereologi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu metode NvxVref atau fractionator. Metode NvxVref merupakan estimasi jumlah total per satuan volume, densitas, dalam sampel jaringan, yang umumnya melibatkan ketebalan yang telah diketahui. Sementara metode fractionator merupakan metode yang sedikit lebih mudah karena dapat dilakukan tanpa melibatkan perhitungan volume dari suatu objek. Metode perhitungan dengan fractionator dilakukan dengan memperhitungkan setiap fraksi dari struktur yang ingin diamati, dalam hal ini sel Purkinje cerebellum. Densitas atau kepadatan diestimasi secara langsung dengan menghitung dalam sampel jaringan cerebellum yang dikonversi ke dalam jumlah total dengan mengalikannya menggunakan kebalikan dari fraksi sampel jaringan. Pada kesempatan ini, metode yang akan diuraikan untuk melakukan perhitungan estimasi jumlah sel Purkinje cerebellum adalah metode fractionator fisik. Metode ini merupakan gabungan dari dari dua prinsip stereologi yaitu fractionator sampling dan metode disektor fisik.

Artikel lengkap hanya dapat diakses oleh member. Silakan login terlebih dahulu.

Existing Users Log In
   

Metode Stereologi: Penghitungan Jumlah Sel Pyramidal pada Hippocampus

Metode stereologi yang digunakan untuk penelitian dengan tujuan menghitung sel pyramidal hippocampus regio CA1 dan regio CA2-3 pada pemberian ekstrak bawang putih terfermentasi terhadap tikus yang diinduksi monosodium glutamate adalah stereologi non bias dengan metode: Nv x Vref dan probe disektor fisik dengan unit hitungnya adalah nukleus sel pyramidal hippocampus.
Keunggulan dari stereologi non-bias yaitu cara penghitungan untuk mendapatkan data kuantitatif dari 2 dimensi (potongan/slide) yang dapat diekstrapolasi menjadi 3 dimensi. Stereologi masih jarang digunakan sehingga dapat dijadikan keunggulan penelitian kita untuk dapat diterima dalam publikasi. Selain itu tentu saja memberi kontribusi bermakna bagi perkembangan ilmu karena dapat memberikan data secara kuantitatif. Stereologi tidak membutuhkan biaya besar dan alat canggih, namun butuh ketekunan dan ketelitian. Hal inilah yang menjadikan stereologi bisa diterapkan oleh peneliti dari berbagai institusi.

Artikel lengkap hanya dapat diakses oleh member. Silakan login terlebih dahulu.

Existing Users Log In
   

Stereologi dan Aplikasinya pada Penelitian Biomedis: Konsep-Konsep Dasar

Stereologi dapat didefinisikan sebagai sebuah metode pengukuran parameter 3 dimensi (3D) dari sebuah obyek (yang meliputi volume, luas permukaan, panjang, maupun jumlah partikel), yang diturunkan dari potongan mikroskopik yang pada hakekatnya 2 dimensi. Stereologi merupakan ilmu matematika yang merupakan gabungan dari ilmu geometri stokastik dan statistik. Stereologi juga dapat dikatakan sebagai terapan metode statistik di dalam geometri.

Dari sisi sejarah, sebenarnya stereologi bukanlah ilmu yang baru sama sekali, sekalipun istilah stereologi baru diperkenalkan pada tahun 1961. Berbagai konsep stereologi sebenarnya dapat dilacak jauh asal-muasalnya hingga beberapa abad silam. Misalnya, pengukuran “volume lokal” (misalnya volume badan sel) dengan metode rotator didasarkan pada teorema kedua dari Pappus (abad 4 M), metode pengukuran volume (contoh, volume organ) diperkenalkan oleh Bonaventura Fransesco Cavalieri (1635), serta metode penghitungan fraksi volume, fraksi luas permukaan, maupun fraksi panjang dari dua fase struktur, pertama kali digagas oleh Delesse (ahli tehnik geologi; 1847) dan kemudian dimodifikasi oleh ahli-ahli geologi lainnya, yaitu Rosiwal (1898) dan Thompson (1930). Kemudian stereologi mengalami perkembangan amat pesat di dekade 1980-1990-an di mana berbagai metode stereologi untuk berbagai pengukuran 3D dirumuskan.

Pada saat ini, stereologi telah dimanfaatkan oleh berbagai cabang ilmu, baik bidang ilmu biologi (seperti pertanian, kehutanan, perikanan, kedokteran) maupun non-biologi (misalnya tehnik geologi, metalurgi, dan petrologi). Di bidang ilmu kedokteran, semua cabang ilmu yang melakukan kuantifikasi preparat histologi (tidak semata-mata Histologi atau Patologi Anatomi), akan membutuhkan stereologi, apabila menginginkan hasil penelitian yang valid. Makalah ini merupakan bagian pertama dari dua makalah yang menguraikan konsep-konsep dasar stereologi.

Artikel lengkap hanya dapat diakses oleh member. Silakan login terlebih dahulu.

Existing Users Log In
   

Stereologi dan Aplikasinya pada Penelitian-Penelitian Biomedis: Pengukuran Parameter Tiga Dimensi

GINUS PARTADIREDJA
Bagian Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Stereologi berkenaan dengan pengukuran parameter-parameter tiga dimensi (3D) yang diturunkan dari preparat mikroskopis yang sebenarnya merupakan obyek dua dimensi (2D). Makalah pertama dari seri dua makalah ini sebelumnya telah membahas konsep-konsep dasar stereologi, yang meliputi konsep-konsep akurasi dan presisi, pengenalan probe/ pengukur yang spesifik untuk setiap parameter 3D, pertimbangan optimasi pengambilan sampel mulai dari tingkat jumlah individu hingga jumlah hitungan (titik, profil, intersep), serta randomisasi dalam hal keterpilihan sampel serta orientasi struktur yang diukur. Makalah kedua ini akan membahas aplikasi praktis stereologi dalam estimasi volume, jumlah partikel, luas permukaan, panjang, volume lokal, ukuran-ukuran penampang melintang, pengukuran derivatif, serta aspek-aspek lain stereologi.

Artikel lengkap hanya dapat diakses oleh member. Silakan login terlebih dahulu.

Existing Users Log In